Selasa, 31 Januari 2012

Teladan Pelayanan Sang Inisiator

Baca: Markus 6:6b-13


Setelah Yesus diusir dari kampung-Nya, di Nazareth, kemudian Dia melakukan pelayanan ke desa-desa sambil mengajar(6b). Ini adalah teladan yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya yang ‘Nyantrik” (berguru) kepada-Nya. Jaman itu, seorang murid pasti akan mengikuti gurunya kemana pun dia pergi. Hal ini pula yang terjadi pada murid-murid Yesus. Mereka melihat secara langsung apa yang dilakukan oleh Yesus, bagaimana metode pelayanan-Nya, seperti apa Dia melayani jiwa-jiwa. Apa respons orang terhadap Yesus, dan bagaimana Yesus sendiri menanggapi respon orang yang beragam, bahkan tidak jarang penolakan diterima-Nya.

Di ayat yang ke (7), Yesus lantas memanggil murid-murdi-Nya untuk diberi pengarahan. Pengarahan seperti apa? Ya, pengarahan kepada murid-murid tentang praktek pelayanan. Setelah beberapa waktu mereka bersama-sama Yesus, melihat apa yang dikerjakan-Nya, kini saatnya untuk mereka memraktikkan apa yang dipelajari dari-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah sang inisiator pelayanan. Dialah yang berinisiatif untuk melayani jiwa-jiwa, memberitakan kabar baik, kabar sukacita tentang Dia. Dialah pemrakarsa pelayanan, karena itu, jangan ada seorang pun juga memegahkan diri karena sudah diperkenan melayani. Sebab itu bukan karena inisiatif, aktif dan kreatifnya dia, tapi itu semua karena kemurahan Allah yang telah memberi kesempatan melayani. Dialah yang Mengutus kita melayani. Bukan hanya berinisiatif, lantas berpangku tangan tak melakukan apa-apa. Tuhan Yesus juga Mempersiapkan Pelayanan dengan baik para murid-Nya terlebih dahulu. Apa saja yang dipersiapkan-Nya:

1. Dia telah melatih murid-murid-Nya, setiap hari untuk secara langsung melihat apa yang dikerjakan oleh-Nya.

2.Dia juga mendidik, dalam artian memberi pengajaran kepada mereka. Dengan mendengarkan ketika Yesus mengajar, atau belajar direct, langsung dari apa yang Yesus katakan kepada mereka.

3.Dia Memberi Kuasa, disamping perlengkapan ilmu, baik pengajaran, didikan, maupun pelatihan secara langsung yang diberikan Yesus, Dia juga memberi murid-murid-Nya kuasa. Kuasa atas roh-roh jahat, kuasa untuk menyembuhkan penyakit, dan kuasa untuk melepaskan orang dari kelemahan, seperti kata Lukas dan Matius. Ini juga tak kalah penting, sebab karunia ini adalah sarana untuk pelengkap pelayanan. Sarana untuk maksimalisasi pelayanan.

Bukan hanya inisiator, dan mempersiapkan Pelayanan, Dia juga memberi arahan, nasihat, dan wejangan secara khusus. Hal ini terkait dengan system, cara atau metode pelayanan yang harus dilakukan. Hal apa saja yang menjadi arahan-Nya:

1. Mengutus mereka berdua-dua. Format dua-dua ini sangat penting dan bermanfaat dalam pelayanan. Keduanya bisa saling menopang dalam melayani Tuhan. Ketika ada bermacam-macam hal yang dapat mengendurkan semangat melayani, rekan sepelayanan dapat mengingatkan. Ketika ada tantangan dalam pelayanan, maka beban itu dapat ditanggung bersama, yang tentunya akan menjadi lebih ringan bukan? Ya.. berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, itu kata pepatah.

2. Perihal Bekal, atau apa saja yang boleh dibawa oleh para murid-Nya. Di sini Yesus melarang mereka membawa barang apapun, khususnya perbekalan makan, atau uang. Yang boleh dibawa ayat ke (9) disebutkan hanyalah boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Hal ini dilakukan Yesus agar mereka focus pada pelayanan, dan bukan pada penghidupan, atau materi. Selain itu, hal ini juga bermanfaat sebagai semacam filtrasi orang yang dilayani. Dalam arti siapa yang menolak dan siapa yang tidak. Yang menolak pastilah akan menerima mereka. Jika sudah diterima, maka urusan materi, dan penghidupan, itu bukan hal yang terlalu bermasalah.

3. Jika diterima. Penerimaan orang terhadap kita tentu hal yang sangat membahagiakan. Tapi dalam wejangan-Nya, Yesus memberi arahan agar mereka tidak terlalu euphoria (berlama-lama bangga dan senang) dengan penerimaan itu, sebab ada hal lebih penting yang dilakukan. Yakni, tinggal di rumah orang yang menerima, sampai tiba waktunya nanti mereka pergi. Ketika para murid diterima dan tinggfal di tempat/ rumah orang yang menerima, mereka tidak hanya diam, berpangku tangan layaknya seorang tuan besar yang harus dilayani. Tapi mereka harus melayani, seperti apa? Yakni menjalankan tujuan Yesus mengutus mereka berdua-dua, yakni untuk memberitakan Injil, mewartakan kabar sukacita. Tidak itu saja, ketika ada orang yang sakit dan kerasukan setan, dengan kuasa yang diberikan Allah maka para murid pun harus melayani.

4. Mengatasi Penolakan. Tidak mustahil ketika melayani mereka akan ditolak. Jangankan para murid, Yesus pun mendapat penolakan ketika di Nazareth, dan gerasa, seperti disebutkan dalam pasal-pasal sebelumnya. Yang terpenting bukan penolakannya, tapi bagaimana berespons terhadap penolakan. Dalam urusan ini Yesus sendiri telah memberi teladan terhadap para murid-muridNya. Penolakan tidak sertamerta mengendurkan orang melayani, tapi menjadikan itu sebagai penyemangat dalam melayani.

Tentang penolakan, Yesus memberikan mereka arahan tentang bagaimana bersikap. Dalam ayat yang ke (11) disebutkan, kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka. Mengibaskan debu adalah tradisi orang yahudi ketika mereka sudah melintasi daerah non Yahudi, dan masuk daerah Yahudi. Tanda ini menunjukkan, dimaksudkan Yesus untuk menunjukkan bahwa, ketika orang-orang menolak murid-Nya, maka sama saja mereka telah menolak Dia sang empunya pelayanan yang telah mengutus orang untuk melayani. Dan akibatnya pun akan sangat fatal. Dalam kitab matius disebutkan, bahwa apa yang ditanggung oleh Sodom-gomora akan jauh lebih ringan disbanding dengan apa yang akan ditanggung kota itu, akrena penolakan mereka.

Tentang hasil dari pelayanan para murid ini disebutkan dalam (13) bahwa mereka telah mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. Terkait dengan minya yang dioleskan, ini bukanlah minyak urapan seperti anggapan sebagian orang Kristen masa kini. Minyak yang dioleskan adalah minyak zaitun yang bermanfaat menyembuhkan penyakit tertentu. Artinya, tanpa mengesampingkan kuasa Allah, minyak itu adalah sarana medis yang juga digunakan oleh murid-murid untuk menyembuhkan orang sakit. Bukan melulu soal mujizat.

Berbahagialah kita, umat-Nya, yang kini diberi kesempatan melayani, dalam hal apapun. Sebab, itu adalah kesempatan yang sangat berharga bagi kita untuk dipertanggungjawabkan. Jangan takut, Dia sang empunya pelayanan itu akan selalu menyertai kita, memberi kita kuasa sebagai pelengkap melayani. Tentang hal penolakan,. Itu adalah hal berat memang, tapi itu biasa terjadi di mana-mana. Jangankan kita, Yesus yang mengutus kita melayani pun beberapa kali di tolak. Karena itu kiranya penolakan, tidak diharagai orang tidak membuat kita undur, tapi tetap maju dalam pelayanan Tuhan. Kiranya Tuha Yesus memberi kekuatan untuk melampaui banyak masalah.

.::Related Post::.