Kamis, 26 Januari 2012

Nilai Orang yang Tak Bernilai


Baca: Markus 5:14-20

Firman tuhan pagi ini menghantar kita melihat bagaimana karya Yesus terhadap seorang yang dirasuki setan di gerasa. Ayat sebelumnya diceritakan bagaimana orang gila (kerasukan setan) ini begitu kuat, sehingga tidak satu pun orang berhasil menaklukkan dia. Bahkan rantai dan tali pun diputusnya. Tidak heran, sebab ada legion (setan dalam jumnlah banyak) yang merasuk dalam tubuhnya.

Dalam ayat nya yang ke 14, dikisahkan bagaimana orang-orang (penjaga babi) berlari ke kampung-kampng dan kota terdekat untuk menceritakan apa yang dilihatnya (karya Yesus terhadap orang gila di gerasa ini). Awalnya respon mereka (orang kampong dan kota sekitar) cukup baik, bahkan takjub dan takut dengan apa yang Yesus lakukan. Apa lagi setelah mereka melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa orang yang sebelumnya sulit dijinakkan itu, pada ayat ke 15 justru terlihat duduk, berpakaian (sebelumnya telanjang) dan sudah waras. Ya.. itulah dia orang yang kerasukan legion.
Namun respons itu berubah ketika orang-orang yang melihat sendiri peristiwa itu (penjaga babi) menceritakan bagaimana nasib kawanan babi yang mati, maka respons itu berubah, bahkan perubahannya cukup radikal dengan mengusir Yesus (17). Apa alasannya ? lagi-lagi motif ekonomi dijadikan alasan. Mereka takut kalau-kalau kerugian warga di kota dan kampung terdekat akan makin banyak, jika Yesus terlalu lama berada di kota mereka. Takjub dan takut kepada Yesus, Tuhan yang berkuasa itu kontan lenyap ketika ekonomi dan kekayaan mereka di usik. Mereka tidak lagi takut dan takjub dengan karya Yesus yang begitu besar menyelamatkan jiwa manusia. Mereka memandang keselamatan babi-babi (harta) lebih penting, dibanding dengan keselamatan jiwa-jiwa.

Bagaimana dengan kita? Jangan-jangan ekonomi, harta, kekayaan adalah motif terpenting dalam hidup kita, sehingga bisa menggeser pandangan dan focus kita terhadap jiwa-jiwa (penginjilan). Menggeser pemahan tentang pelayanan.
Selanjutnya kita melihat respons orang yang telah ditolong, disembuhkan oleh Yesus. Ketika Yesus hendak pergi meninggalkan kota itu dengan menggunakan perahu, orang gila di gerasa tadi memiliki kerinduan besar untuk mengiring Yesus. Kerinduan untuk melayani, mengabarkan injil kepada jiwa-jiwa yang terhilang seperti dia. Ini tentu respons yang sangat positif. Tapi apa tanggapan Yesus? Yesus tidak kontan langsung setuju dan memperkenannya. Dia memiliki tugas tersendiri untuk orang itu, yakni "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"(19) Maka pulanglah orang itu, memberitakan, mewartakan, menjalankan tugas yang Tuhan Yesus berikan. Dan hasilnya, semua orang menjadi heran (takjub).

Orang gila, orang terpinggirkan, sampah, masyarakat, seringkali kita remehkan. Kita lebih melihat unsur negative daripada melihat hal positif pada diri mereka. Padahal, ketika tuhan menjamah hati mereka, tidak hanya perubahan besar yang akan terjadi, ada dampak dan hasil luar biasa dalam tuga pelayanan yang Yesus telah amanatkan. Kiranya ini memotifasi orang untuk melihat, menilik, dan melayani mereka yang terpinggirkan. Kiranya ini memberi perspektif baru dalam pelayanan kita. Itulah kita, sudut pandang terhadap orang selalu amat jauh berbeda dengan sudut pandang Allah. Apa yang kita nilai bernilai, bagi Tuhan justru sebaliknya. Apa yang kita anggap sampah, bagi tuhan adalah permata yang sangat berharga. Tuhan menjungkirbalikkan pemahaman dunia. Inilah paradox itu. Slawi

.::Related Post::.