Baca: Markus 5:21-24, 35-43
Pagi ini ayat firman Tuhan menjelaskan kepada kita tentang iman Yairus, seorang pemimpin atau kepala rumah ibadat. Ketika Yesus sudah menepi, merapat ke daratan, setelah perjalanan kembali dari Gerasa, Dia didatangi oleh banyak orang. Mereka berbondong-bondong menemui Yesus. Salah satu diantaranya ada Yairus yang kemudian datang bersungkur dihadapan Yesus untuk meminta Dia menemui anaknya yang sakit dan hampir mati 5:23. Tanpa menunggu lama, ikutlah Yesus bersama Yairus menemui anaknya. Bukan perjalanan yang pendek menuju rumah Yairus. Di sini kesabaran dan iman Yairus diuji, akankah ia tetap setia. Kalau hanya soal kesembuhan saja, si Yairus tetap percaya. Terbukti, selama perjalanan ada seorang tua yang sakit pendarahan, dengan hanya menjamah jubbah Yesus saja ia menjadi sembuh. Apa lagi anaknya yang nanti akan dijamah Yesus dengan tangannya sendiri. Sudah pasti akan sembuh.
Ujian iman Yairus tidak berhenti sampai di situ. Ditengah-tengah perjalanan, salah seorang keluarganya datang menemui Yairus yang menceritakan perihal kematian anaknya. Keluarga Yairus menyarankan agar tidak lagi merepotkan Yesus untuk datang kerumahnya, sebaba anaknya sudah mati. Tentu tidak mudak bagi Yairus. Kalau soal kesembuahn sih dia (Yairus) percaya bahwa anaknya akan sembuh. Tapi bagaimana dengan membangkitkan orang mati? Apakah Yairus akan tetap percaya Yesus dapat mengatasi hal ini? Sebab dalam kitab markus, baik keterangan atau kronologis sebelum pasal dan ayat tidak ada sekalipun disebutkan karya Yesus membangkitkan orang mati? Sama seperti kekuatan iman yang Yairus peroleh dengan melihat peristiwa perempuan pendarahan yang hanya menjamah jubbah Yesus saja bisa sembuh. Belum lagi lingkungan, keluarga Yairus dan masyarakat yang apatis (tidak percaya), bahkan nantinya menertawakan Yesus ketika dia berbicara anak Yairus hanya tidur saja.
Bukan soal mudah bagi Yairus. Karena itu Tuhan Yesus menguatkan dia dengan perkataan "Jangan takut, percaya saja!" 5:36. Bukan sekadar ucapan penghibuaran kedukaan. Bukan pula ucapan penguatan agar menerima kematian anaknya yang tidak mungkin lagi disembuhkan, sebab sudah mati. Tapi sebuah ungkapan, sebuah pernyataan yang memberi penegasan iman. Pernyataan yang dilontarkan agar Yairus tetap percaya bahwa Dia (Yesus) sanggup melakukan, kendati tidak lagi bisa disembuhkan, tapi Dia mampu membangkitkan.
Ketika sampai dirumah Yairus, Yesus segera menemui anak itu lalu memegang tanggnya dan mengatakan "Talita kum,", yang artinya, "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" anak itupun bangun dan berjalan. Melihat hal ini semua orang menjadi takjub.
Yairus memang orang yang beriman, terbukti dia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan anaknya. Tapi jika anaknya yang sakit itu sudah mati, bagaimana, apakah Yairus tetap percaya? Bukan soal mudah bukan. Berpindah dari iman “Yesus dapat menyembuhkan” kepada “Yesus dapat menghidupkan” tidaklah gampang. Tapi jika melihat perkataan Yairus ketika meminta, 5:23 yang dia pohonkan adalah agar anaknya selamat dan tetap hidup. Keselamatan bagi Yairus adalah sesuatu yang sangat penting, sementara tetap hidup itu nomor dua. Kata keselamatan dari bahasa aslinya (swyh), dengan kata dasar sozo Pelafalan:sode'-zo <4982> (to Save). Kata ini setara dengan kata sōtēría [salvation,] <4991> keselamatan (dalam arti Kristiani); pembebasan, pemeliharaan. Sozo mengandung arti atau mengacu pada keselamatan (manusia atau ilahi) dari bahaya serius, biasa dipakai dengan (menyelamatkan, membebaskan; mengamankan, melestarikan; menyembuhkan). Kata ini sering digunakan merujuk pada keselamatan jiwa. Karena itu atinya, ketika anak itu pun mati, bukan menjadi soal yang terlalu serius bagi Yairus, sebab yang diminta adalah keselamatan anaknya. Jika itu yang diminta, mengapa Yesus harus datang ke rumah Yairus? Bukankah dengan iman percaya, ucapan (pernyataan) Yesus saja sudah cukup? Yesus datang ke rumah Yairus bukan saja untuk menyembuhkan anaknya, itu adalah sarana bagi Dia untuk mengabarkan tentang siapa DiriNya. Itu menjadi sarana PI. Terbukti, banyak orang menjadi takjub dengan karya Yesus, kendati tidak disebutkan ada orang lagi diantara mereka yang bertobat dan mengikut dia. Slawi
.::Related Post::.
Pagi ini ayat firman Tuhan menjelaskan kepada kita tentang iman Yairus, seorang pemimpin atau kepala rumah ibadat. Ketika Yesus sudah menepi, merapat ke daratan, setelah perjalanan kembali dari Gerasa, Dia didatangi oleh banyak orang. Mereka berbondong-bondong menemui Yesus. Salah satu diantaranya ada Yairus yang kemudian datang bersungkur dihadapan Yesus untuk meminta Dia menemui anaknya yang sakit dan hampir mati 5:23. Tanpa menunggu lama, ikutlah Yesus bersama Yairus menemui anaknya. Bukan perjalanan yang pendek menuju rumah Yairus. Di sini kesabaran dan iman Yairus diuji, akankah ia tetap setia. Kalau hanya soal kesembuhan saja, si Yairus tetap percaya. Terbukti, selama perjalanan ada seorang tua yang sakit pendarahan, dengan hanya menjamah jubbah Yesus saja ia menjadi sembuh. Apa lagi anaknya yang nanti akan dijamah Yesus dengan tangannya sendiri. Sudah pasti akan sembuh.
Ujian iman Yairus tidak berhenti sampai di situ. Ditengah-tengah perjalanan, salah seorang keluarganya datang menemui Yairus yang menceritakan perihal kematian anaknya. Keluarga Yairus menyarankan agar tidak lagi merepotkan Yesus untuk datang kerumahnya, sebaba anaknya sudah mati. Tentu tidak mudak bagi Yairus. Kalau soal kesembuahn sih dia (Yairus) percaya bahwa anaknya akan sembuh. Tapi bagaimana dengan membangkitkan orang mati? Apakah Yairus akan tetap percaya Yesus dapat mengatasi hal ini? Sebab dalam kitab markus, baik keterangan atau kronologis sebelum pasal dan ayat tidak ada sekalipun disebutkan karya Yesus membangkitkan orang mati? Sama seperti kekuatan iman yang Yairus peroleh dengan melihat peristiwa perempuan pendarahan yang hanya menjamah jubbah Yesus saja bisa sembuh. Belum lagi lingkungan, keluarga Yairus dan masyarakat yang apatis (tidak percaya), bahkan nantinya menertawakan Yesus ketika dia berbicara anak Yairus hanya tidur saja.
Bukan soal mudah bagi Yairus. Karena itu Tuhan Yesus menguatkan dia dengan perkataan "Jangan takut, percaya saja!" 5:36. Bukan sekadar ucapan penghibuaran kedukaan. Bukan pula ucapan penguatan agar menerima kematian anaknya yang tidak mungkin lagi disembuhkan, sebab sudah mati. Tapi sebuah ungkapan, sebuah pernyataan yang memberi penegasan iman. Pernyataan yang dilontarkan agar Yairus tetap percaya bahwa Dia (Yesus) sanggup melakukan, kendati tidak lagi bisa disembuhkan, tapi Dia mampu membangkitkan.
Ketika sampai dirumah Yairus, Yesus segera menemui anak itu lalu memegang tanggnya dan mengatakan "Talita kum,", yang artinya, "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" anak itupun bangun dan berjalan. Melihat hal ini semua orang menjadi takjub.
Yairus memang orang yang beriman, terbukti dia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan anaknya. Tapi jika anaknya yang sakit itu sudah mati, bagaimana, apakah Yairus tetap percaya? Bukan soal mudah bukan. Berpindah dari iman “Yesus dapat menyembuhkan” kepada “Yesus dapat menghidupkan” tidaklah gampang. Tapi jika melihat perkataan Yairus ketika meminta, 5:23 yang dia pohonkan adalah agar anaknya selamat dan tetap hidup. Keselamatan bagi Yairus adalah sesuatu yang sangat penting, sementara tetap hidup itu nomor dua. Kata keselamatan dari bahasa aslinya (swyh), dengan kata dasar sozo Pelafalan:sode'-zo <4982> (to Save). Kata ini setara dengan kata sōtēría [salvation,] <4991> keselamatan (dalam arti Kristiani); pembebasan, pemeliharaan. Sozo mengandung arti atau mengacu pada keselamatan (manusia atau ilahi) dari bahaya serius, biasa dipakai dengan (menyelamatkan, membebaskan; mengamankan, melestarikan; menyembuhkan). Kata ini sering digunakan merujuk pada keselamatan jiwa. Karena itu atinya, ketika anak itu pun mati, bukan menjadi soal yang terlalu serius bagi Yairus, sebab yang diminta adalah keselamatan anaknya. Jika itu yang diminta, mengapa Yesus harus datang ke rumah Yairus? Bukankah dengan iman percaya, ucapan (pernyataan) Yesus saja sudah cukup? Yesus datang ke rumah Yairus bukan saja untuk menyembuhkan anaknya, itu adalah sarana bagi Dia untuk mengabarkan tentang siapa DiriNya. Itu menjadi sarana PI. Terbukti, banyak orang menjadi takjub dengan karya Yesus, kendati tidak disebutkan ada orang lagi diantara mereka yang bertobat dan mengikut dia. Slawi
