Senin, 2008 Juni 16

Tangisan Untuk Yang Fiksi


“Menangislah selama masih bisa menangis. Tapi menangislah
untuk sesuatu yang pantas ditangisi”

Kesuksesan film “ayat-ayat cinta” di kancah perfileman Indonesia seolah mampu menggugah kembali para sineas-sineas muda untuk bangkit dan berkarya lebih baik lagi, disatu sisi. Di sisi lain,. fenomena kesuksesan film arahan Hanung Brahmantyo ini banyak membawa kontroversi dan perdebatan, baik dilihat dari sudut teologisnya, maupun gaya impulsif para pembesar yang sangat responsif, entah dengan maksud dan tujuan apa.
Dari beberapa media yang terbit beberapa waktu lalu, minimal ada 4 nama yang secara vulgar menunjukkan respon antusiasme mereka, yang banyak orang menilainya sedikit “over”. Sebut saja Dr. Din Syamsudin, ketua PP muhamadiyah, BJ Habibie, Presiden SBY, beserta wakilnya Jusuf Kalla. Hampir semua tokoh tersebut antusias, bahkan mengaku menangis setelah menonton film “ayat-ayat cinta” – sebagai luapan emosi tanda rasa haru terhadap film itu. TABLOD REFORMATA YOHANES BLOG

Segera setelah mas media banyak memberitakan soal tangisan Pak Presiden dan kawan-kawan ini, banyak respon dan tanggapan meluncur ke redaksi banyak media, entah itu dari media cetak, elektronik, audio, visual, maupun media akses cepat seperti internet. Ada yang menyatakan rasa simpatinya melihat tangisan Pak Presiden dan kawan-kawan, ada pula yang mengkritik, bahkan cenderung menghujat aksi antusiasme Pak Presiden terhadap film yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy ini. Banyak orang menanyakan, “apalah maksud Pak Presiden dengan mengaku menangis didepan umum?” Apakah Pak Presiden mau tebar pesona lagi mempersiapkan diri, dengan menarik simpati sebagai bekal 2009? Ada juga yang menanyakan untuk apa Pak Presiden menangisi film “ayat-ayat cinta” yang notabene fiksi itu – padahal didunia riil yang nyata ini, masih banyak saudara-saudara kita (rakyatnya) yang miskin dan membutuhkan makan; korban lapindo yang tidur dan makan ala kadarnya; anak-anak dari Indonesia timur dan daerah lainnya yang banyak kekuarangan gizi; juga, mereka yang mengalami bencana banjir bandang di jawa timur dan berbagai daerah lainnya; Mengapa bukan mereka ini yang ditangisi? Inilah yang disesalkan banyak orang.
Meskipun soal, tangis dan terharu adalah soal pribadi seseorang, dan sudah seharusnya orang lain tak perlu mencampuri hal ini. tapi berbeda dengan Pak Presiden kita, beliau adalah tokoh publik yang banyak disorot oleh banyak mata, sehingga apa yang dilakukannya pun tak luput dari tanggapan dan respon yang melihatnya. Bukankah hal ini juga sah sah saja? Dan pertanyaan banyak kalangan dilontarkan juga lantaran ada indikasi tebar pesona Pak Presiden dengan komentar dan pengakuan tangisnya. Ah.. peninglah...!!!
Tangisan memang sesuatu yang natural. Tatkala orang merasakan sakit secara fisik atau mental, juga mereka yang terharu melihat sesuatu, tangisan merupakan respon yang biasa terlihat, dan memang hal ini tak salah. Menangisi sesuatu yang fiksi, seperti film, itu pun juga bukan suatu kesalahan. Tapi untuk apalah harus di umbar ke banyak orang kalau saya tadi menangis setelah menonton film “ayat-ayat cinta” ck..ck..ck...
Lha wong masih banyak kok yang harus ditangisi, untuk apa harus mengumbar kesaksian tentang tangis ke banyak orang. Tangisilah diri ini – mengapa diri ini tak banyak berubah? Mengapa diri ini kok masih saja senang bergaul dengan dosa? Atau tangis sebagai lambang penyesalan dalam pohon-ampun dosa. Dan masih banyak lagi tangisan-tangisan yang perlu dilakukan oleh diri dalam hubungannya dengan relasi antara diri dan realitas sosial ataupun secara vertikal, antara diri dan Tuhan. Menangislah selama masih bisa menangis. Tapi menangislah untuk sesuatu yang pantas ditangisi. Slamet Wiyono/dbsTABLOD REFORMATA YOHANES BLOG

0 komentar:

 

sponsored by | Tabloid Reformata