Senin, 2008 Juni 16

Penderitaan berbalut harapan


Sudah satu minggu lebih bahan bakar minyak (bbm) naik harga. Rakyat ditengah ekonomi mereka yang terpuruk, sepertinya semakin hancur saja dengan kenaikan ini. Tanya saja pada ibu-ibu atau pembatu yang biasa belanja dipasar, seberapa tinggi naiknya harga bahan pokok? Tanya pada para buruh dan karyawan kelas bawah, berapa harga nasi bungkus dengan lauk tempe? Ah.. malas sebenarnya membincangkan masalah ini. Toh, harga bbm juga sudah terlanjur naik. Bayangkan saja sudah berapa kali, sejak pemerintahan presiden SBY (susilo Bambang Yudhoyono) yang katanya dicintai rakyat itu harga bbm terus melonjak naik.

TABLOD REFORMATA YOHANES BLOG
Dulu tatkala bbm naik, rakyat dihibur dengan kata-kata ulama (rohaniawan) AA.Gymn yang menyejukkan, agar menerima keadaan dan kenaikan harga bbm. Belakang ini, setelah harga bbm berhasil naik, juga muncul iklan layanan masyarakat yang berisi kata-kata penghiburan dan permakluman tentang kenaikan bbm. Rakyat diharapkan mengerti dengan keadaan negara yang mau tak mau harus menaikkan harga bbm. Dengan menerima kenaikan ini seolah rakyat dipandang sudah turut berkontribusi dan telah menjadi bangsa yang loyal dan memiliki jiwa yang cinta negara. Sebaliknya siapa yang tak setuju dengan kenaikan bbm, sepertinya diposisikan sebagai mereka yang kurang cinta negara. Lihat saja bagimana komentar wakil presiden beberapa waktu lalu tentang penolakan mahasiswa dan Bantuan Langsung Tunai(BLT). Inti komentarnya tersebut kira-kira seperti ini, jikalau masih ada penolakan terhadap harga bbm, maka blt tidak akan bisa digulirkan. Hal ini dikomentari oleh Dita, aktivis buruh, beberapa waktu lalu di salah satu media cetak nasional, dengan membuat statemen bahwa wakil presiden seolah telah “mengkonfrontasikan” antara mahasiswa dan rakyat. Aktivis dipandang akan mematikan “rezeki” rakyat kalau saja blt yang tak digulirkan karena penolakan mereka (aktivis). Padahal dampak yang begitu besar akan berpengaruh disetiap sendi kehidupan rakyat, kalau saja bbm itu jadi naik. Tapi apa mau dikata, sekarang bbm betul-betul sudah naik.
Perjuangan mahasiswa, kaum buruh dan juga kawan-kawan aktivis lainnya seolah tak ada sedikitpun pengaruhnya. Entah mengapa, pemerintah sepertinya telah menutup rapat-rapat telinganya. Kini rakyat sepertinya sudah kebingungan, kemana mereka akan mengadu. Mungkin satu-satunya tempat untuk mengadu adalah gereja sebagai perpanjangan tangan Tuhan itu. Namun amat sangat disayangkan, dari obrolan beberapa hamba Tuhan yang terdiri dari berbagai denominasi – di sebuah sekolah tinggi teologi – mereka juga tak bisa berbuat apa-apa. Yang mereka lakukan hanyalah memberikan firman-firman dan tausiah (nasihat) yang sifatnya menghibur. Menerima setiap keadaan dan percaya sepenuhnya bahwa apa pun masalah yang ada, Tuhan jauh sudah lebih tahu, Dia pasti juga telah menyediakan solusinya. Tak jauh beda dengan apa yang AA. Gym dan pemerintah lakukan.
Siapa yang berani menyalahkan apa yang sudah dilakukan oleh para pendeta tadi? Tak sedikit pun apa yang mereka lakukan itu salah. Harapan apa lagi yang dapat diberikan pada mereka yang sudah tak memiliki apa-apa selain harapan pada “indahnya kehidupan”, nanti disurga, tatkala Tuhan datang, menjemput umat-Nya. Penghiburan yang mana lagi bisa disuguhkan selain penghiburan bahwa penderitaan juga salah satu anugrah Allah untuk menyadarkan umat-Nya. Janji tentang apa lagi yang bisa diberikan selain janji dalam naungan iman, tentang pertolongan Tuhan yang niscaya akan segera datang. Namun disisi lain penghiburan itu seperti “meninabobokan” umat, lalu membuatnya sedikit melupakan keadaan yang menyedihkan ini, sampai lupa untuk bertanya pada sang penguasa, “sampai kapankah keadaan ini akan berakhir?”. Slamet Wiyono

TABLOD REFORMATA YOHANES BLOG

0 komentar:

 

sponsored by | Tabloid Reformata