Senin, 2008 Juni 30

Kota Tua Wisata Alternatif Murah Meriah



MASA lalu bagi sebagian orang adalah suatu masa yang indah untuk dike-nang dan dinikmati kembali. Ge-dung tua, bangunan lama adalah saksi bisu keindahan masa lalu. Dalam gedung-gedung itu terukir kisah lama yang seringkali dapat mengingatkan kejayaan dan can-tiknya masa lampau.
Meskipun kini bangunan-bangunan itu telah mulai rusak termakan oleh sang waktu. Tapi begitulah kira-kira umumnya keadaan bangunan tua. Satu di antaranya adalah bangu-nan-bangunan “Kota Tua Jakarta”.
Apakah Anda ingin menikmati sisa-sisa kejayaan masa lampau? Ya, di kota tua Jakarta inilah tem-patnya. Meski kemegahan ge-dung-gedung yang dulu seperti-nya congkak menjulang dan kini mulai koyak, tapi di sinilah kita bisa menikmati masa lalu. Masa di mana kota lama ini hidup dan jaya. Ko-non, kota tua Jakarta ini dibangun di lahan seluas 15 hektar. Tepatnya di lahan bekas Sunda Kelapa pada tahun 1527, kemudian dibangun oleh Fatahillah lalu diberi nama Jayakarta. Di tempat inilah dulu sinyo dan noni Belanda kerap menghabiskan waktu dengan ber-jalan-jalan, tepatnya di depan Sta-dhuisplein atau Taman Fatahillah.
Jalan-jalan di depan gedung-gedung nan eksotis itu, apalagi di waktu malam, suasananya akan sangat berbeda. Kini kota tua tak lagi sepi seperti dulu. Banyak orang, termasuk pemerintah telah merencanakan akan menjadikan kota tua Jakarta sebagai ikon pari-wisata yang murah meriah, mena-rik, dan asik dinikmati, terutama sebagai wahana belajar “out door” bagi para siswa dan mahasiswa. Di kawasan Kota Tua ini kita dapat mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti Museum Fata-hillah, Museum Wayang, Museum Bank BNI, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri dan masih banyak lagi lainnya.
Di Museum Bank Mandiri kita dapat menikmati dan mendapat informasi tentang berbagai perala-tan perbankan jaman dulu terma-suk di dalamnya terdapat brankas dan sepeda tua sebagai alat kerja para karyawan bank di masa lalu. Berbeda lagi dengan Museum Bank Indonesia. Di museum yang berada di Jalan Pintu Besar Utara ini kita seolah diajak merunut kembali bagaimana perjalanan perbankan Indonesia sejak jaman penjajahan hingga sekarang. Sebab di sini memang tersimpan informasi tentang hal itu. Menarik-nya lagi, di Museum BI ini kita juga bisa menikmati permainan interaktif yang menggunakan proyektor khusus. Sejumlah koin melayang - layang dan kalau kita berhasil menangkapnya akan keluar informasi tentang mata uang itu.
Sebenarnya sejak tahun 1972 kota tua sudah mulai dipikirkan pengelolaan dan keinginan untuk merenovasinya. Di tahun yang sama, Gubernur Ali Sadikin juga pernah menetapkan kawasan Kota Tua seluas 846 hektare ini sebagai kawasan cagar budaya. Kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Soerjadi Soedirdja di tahun 1992 – bahkan menerapkan Undang-Undang Per-lindungan Bangunan Cagar Budaya dan menginventarisasi 117 gedung tua yang harus dilestarikan. Termasuk gedung-gedung yang ada di kota tua itu.
Kota yang pernah dijuluki se-bagai Graf der Hollanders atau Kuburan Orang Belanda Ini perla-han mulai menggeliat dengan mulai dipugarnya Taman Fatahillah di tahun 2006 lalu. Keramaian yang dulu pernah hilang sejak berjang-kitnya berbagai wabah penyakit pada abad ke-18, berbarengan dengan endapan lumpur di kanal-kanal di kawasan kota tua itu, kini seolah mulai bangkit kembali. Bahkan komunitas anak muda pe-cinta museum yang tergabung dalam Sahabat Museum, juga me-reka yang sangat menghargai sejarah seperti Komunitas Historia Indonesia pun ikut memikirkan bagaimana memajukan kota tua sebagai salah satu tujuan wisata. Salah satu caranya adalah dengan mulai mengadakan tour dan “jalan-jalan bareng” di kota tua ini. Alasan utamanya adalah, selain murah, tempat-tempat itu memang asyik dan memiliki sesuatu yang berbeda untuk dinikmati. Tak hanya me-nyejukkan mata, tapi juga menam-bah wawasan dan semakin mengerti tentang sejarah, minimal bagaimana sejarah Batavia di masa lalu. ?Slamet Wiyono/dbs



Type rest of the post here

0 komentar:

 

sponsored by | Tabloid Reformata