
Masih ingatkah anda dengan tukul, pelawak senior yang sudah malang melintang di jalanan, dan dunia seni, khususnya dalam seni menghibur (pelawak). Ya.. sekarang coba ingat lagi satu kalimat yang tak terlalu sering tukul ucapkan – tapi tatkala tukul diejek dengan bahasa Inggrisnya yang belepotan, sulit dimengerti, meski oleh orang bule sekalipun. Kalimat itu adalah “ora po po, aku di hina; yo wes ben, saya ini kan memang wong ndeso, ortodoks, juga konservatif”. Kontan saja gelak tawa, terdengar menggemuruh dari para pemirsa dan tamu yang secara live menyaksikan acara itu.
Tukul memang sosok yang unik. Baginya reggae dan masa lalu tak mungkin dia lupakan. Bahkan ke-jadulannya itu diakuinya sebagai sesuatu yang ndeso, ortodoks dan konservatif (berdasarkan pengakuannya dalam salah satu episode acara talkshow yang diasuhnya). Masa lalunya merupakan jalur cerita yang menyakitkan sekaligus yang menyenangkan. Kini setelah dia sukses, tak sekalipun ia ingin meningalkan masa lalunya. Hidupnya penuh dengan romantisime dan bayangan masa lalu. Apakah ini jelek? Tentu tidak. sebab masa lalu adalah bagian dari cerita sejarah diri yang perlu dikenang sebagai satu pemacu dan pendorong untuk selalu berucap syukur pada Sang Empunya hidup itu.

Bagaimana dengan gereja, baik sebagai lembaga maupun perseorangan? Adakah gereja yang sangat cinta dengan masa lalu (konservatif)? Kata anak muda jaman sekarang, “ya iya..lah – masa ya iya dong”. Sedikit banyak gereja masih “menghidupi masa lalu”. Dalam artian, gereja masih memakai nilai-nilai masa lalu, entah itu dalam bentuk sebuah uraian teologi, doktrin, maupun budaya barat yang melekat dalam diri setiap pembawa berita kebenaran ke tanah kita tercinta Indonesia. Lalu di kontekstualisasikan atau di inkulturisasi dengan nilai lokal yang dihidupi. Istilah Konservatif sebenarnya ditunjukan pada sebagian orang yang bertekad untuk memelihara hal-hal yang sudah lewat dan meneruskannya, sehingga menolak perubahan apapun. Prinsip yang dipegangnya adalah "seperti apa dulu aku melihat sekitarku, seperti itulah sampai sekarang dan selama-lamanya harus seperti itu.
Mungkin kita pernah mendengar bahwa gererja anu, atau pendeta itu masih hidup dibawah “bayangan masa lalu”. Entah dalam bentuk romantisisme masa kejayaan gereja atau lebih karena fanatisme nya dengan teologi atau daoktrin lama. Seorang hamba Tuhan pernah menyebut teologi semacam ini sebagai “teologi fosil” – teologi lama bentukan teolog-teolog masa lalu – tentunya dirumuskan berdasarkan konteks dan tantangan yang dihadapi di masa itu. Pertanyaanya adalah jikalau “teologi fosil” dibuat berdasarkan apa yang terekam dimasa lalu, apakah sesuai dengan konteks masa kini? Gaya hidup dan teologi konservatif, umumnya menjadikan masa lalu sebagai orientasi, tolak-ukur, dan standart yang pas tentang apa yang sekarang dihidupi. Mungkin saja apa yang dihidupi itu (teologi & gaya hidup konservatif) kurang pass dengan keadaan masyarakat sekarang ini. Misalnya saja sebuah gereja dengan pengajarannya yang sangat menekankan pada doktrin mula-mula, sepertinya menolak sesuatu yang baru. Yang ditakutkan adalah, apakah nantinya juga masih selaras dengan kehidupan dan konteks masa kini? Tak perlukah penyesuaian-penyesuaian dilakukan agar lebih elastis dalam penyampaiannya, selaras dengan konteks pendengar dan kebutuhan umat. Teramat sulit memang melepaskan sesuatu yang sudah dihidupi lama – bahkan ada yang berani mengklaim bahwa satu jenis musik tertentu itu paling valid dan pass untuk di pakai di dalam gereja – sebaliknya yang lain itu “sesat”.
Magnis suseno dalam pendahuluan bukunya “Menalar Tuhan” pernah mengatakan,”konteks indonesia ini sepertinya tak cocok dengan teologi barat yang menjadikan isu Tuhan, teologi, pengajaran agama yang sifatnya doktrinal, sebagai pemicu untuk memberikan jawaban pada umat tentang refleksi teologis terhadap konteks itu. Lain dengan di Indonesia, teologi, doktrin-doktrin yang berat, tak terlalu “dibutuhkan”. Yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana Tuhan, atau apa kata Tuhan tentang keberadaan mereka yang semakin “terpinggirkan” – juga apa kata Alkitab tentang hal ini. Masihkah Tuhan berpihak pada mereka yang “ditindas” dan kelaparan sepanjang hari – karena tak mampu membeli beras, dengan penghasilannya yang hanya cukup untuk membeli bubur, dengan lauk garam. Slamet Wiyono.








0 komentar:
Poskan Komentar