
Sudah 8 tahun gereja ku eksis, aktif melayani dan menaungi umat-Nya. Rindu akan kebenaran berita firman Tuhan ; aktualisasi diri dalam sebuah pelayanan yang konkret dari jemaat yang begitu besar membuat setiap pelayan selalu tertantang untuk terus mengisi diri, sehingga tak putus-putusnya berita kebenaran yang mencerahkan diungkap. Ini salah satunya yang membuat gereja ku eksis sampai saat ini. Meski berada ditengah krisis dan badai yang berkali-kali menghempas namun toh tak membuat gereja ku lalu jatuh terperosok ke jurang yang dalam, sampai akhirnya tak muncul lagi. Ini semua pastinya karena andil dan intervensi Tuhan atas gereja ku ini.
Sebagai sebuah “lembaga” kerohanian yang secara tidak langsung juga bertanggungjawab penuh atas iman umatnya, sudah seharusnya gereja memfasilitasi umatnya yang rindu melayani. Hal ini pun sudah dilakukan dan akan terus dilakukan. Upaya untuk terus meningkatkan setiap pelayanan dan programnya pun tentunya juga tak lupa terus dilakukan. Dan akan terus progres ke depan menjadi lebih mantap dengan jalinan sinergis yang sudah dilakukan seperti yang kita saksikan ketika merayakan hari kenaikan Kristus (1/5) kemarin. Namun prestasi yang sudah diraih tentunya tak membuat gereja ku mandeg, dan ‘berpuas hati‘. Untuk itulah belajar dari pengalaman dengan sesekali menoleh kebelakang – tak hanya sekadar tersenyum tipis rasa puas dengan langkah maju yang sudah terlewati, tapi juga merenungi setiap hal entah itu yang mengenakkan hati atau malah sebaliknya.
Teladani Yesus
Yesus sebagai Tuhan dan teladan dalam melayani telah menjadi pemicu gereja ku terus memacu diri demi progresifitas dan kualitas pelayanannya. Sedikit belajar dari pelayan Yesus. Yesus sebagai guru dan Tuhan yang secara langsung mendidik muridnya dengan kasih dan pengajaran secara langsung, ternyata tak hanya dekat kepada mereka yang diajar (muridnya). Terkadang Yesus sepertinya tak memedulikan muridnya dengan segala urusan pribadi mereka, dan keegoisan mereka – sampai soal duduk pun diperdebatkan. Tak jarang Yesus justru lebih terbuka dan dekat dengan mereka yang ada diluar lingkaran muridnya. Disanalah orang sakit, ‘ pekerja sex ‘, tukang tipu, koruptor dan banyak orang berdosa Dia pedulikan. Lingkaran eksklusif tak pernah membuat-Nya menjadi tertutup dengan dunia yang lebih luas di depan. Sebab Yesus tahu bukan hanya keduabelas orang itu saja yang layak diselamatkan – ada banyak orang yang perlu mendapat keselamatan dan mendengar berita suka cita dari-Nya. Bahkan dalam sebuah ilustrasi yang terdapat dalam Alkitab pun pernah dinyatakan bahwa bukan orang sehat yang membutuhkan dokter, tapi orang sakit. Dan Yesus tahu benar tentang tugas-Nya ini.
Tak sekalipun Yesus terjebak dalam kemutlakan dan pentingnya sebuah identitas sosial dan level tertentu. Entah itu dalam hal spiritual maupun gambaran orang terhadap dirinya. Sebagai seorang “pelayan” lebih tepatnya pengasih, Yesus adalah seorang pengasih yang sangat membumi dan tahu percis bahwa apa yang dibutuhkan oleh orang sekitarnya – bukan sebuah pengakuan masuk dalam kumpulan kedua belas murid “kelompok elite” yang dipimpin-Nya, namun kedekatan Dia dengan yang dilayani dan kasihnya terhadap mereka yang dianggap kecil. Meski Yesus sendiri tahu bahwa kadangkala ada motivasi tak lurus dari target pelayanan-Nya, ditambah teriakan mereka yang tak mengenakkan. Sikap tegas memang harus Dia tunjukkan, namun tak sekalipun dia meninggalkan kumpulan domba yang tersesat lagi itu. Apalagi menganggap mereka tak lebih dari kumpulan domba kecil yang coba berteriak ditengah kumpulan raksasa. Domba kecil yang terus meneriakkan urusan raksasa, namun dicibir karena tak mungkin dia akan menjadi raksasa, apa lagi masuk dalam kumpulan raksasa yang hebat itu. Slamet Wiyono








0 komentar:
Poskan Komentar