Minggu, 11 Mei 2008

MENILIK ISU AXIS DAN 666



ANTI KRISTUS
Baru-baru ini isu anti-kris dengan lambangnya yang populer “666” mencuat lagi ke permukaan. Bersamaan dengan keluarnya satu product – provider phone cell baru isu ini ikut bergulir. Entah dengan maksud apa, yang jelas banyak sms telah beredar mengidentikkan provider ini dengan salah satu simbol anti-kris 666. Berbagai tanggapan dan banyak tanya pun segera menyusul mengomentari isu ini, mulai di berbagai milis (mailing-list), dalam berbagai tulisan yang masih penuh tanya tentang produk ini di beberapa blog (website personal) penyuka media akses internet, untuk menuangkan ekspresi nalar mereka.TABLOD REFORMATA YOHANES BLOG
Sebenarnya isu semacam ini tak hanya muncul baru-baru ini saja. Menurut Mary Stewart Relfe, penulis buku “666 dan Sistem Mata Uang Baru”, ditahun 1970 isu “666” pernah muncul bersamaan dengan mulai dipakainya apa yang dinamakan bar codes (the universal product code) – sebuah group angka-angka yang dirancang dengan tanda-tanda atau lambang-lambang, garis-garis atau bar. Kemudian muncul lagi ditahun 1973 dengan usaha memberi identifikasi pada setiap orang dengan sebuah angka, yang Mary istilahkan dengan angka kesejahteraan sosial (the social scurity numbers). Model ini juga masuk dalam sebuah system data universal yang diistilahkan universal numbering system. Termasuk pengidentifikasian pada setiap benda, baik yang bergerak ataupun yang tidak bergerak dalam sebuah data base yang lagi-lagi masuk dalam system universal, ulasnya dalam bukunya tersebut

BARCODE 666
Dalam bukunya yang edisi bahasa Indonesia-nya diterbitkan oleh Debara Publisher ini Mary mengatakan bahwa ada begitu banyak bentuk dan cara agar kode ini benar-benar dapat masuk dalam keseharian tiap-tiap orang. Mulai dari kode rahasia di supermarket, sebagai pemudah inventarisasi barang dan data base; kartu kredit yang kini sudah familiar digunakan oleh banyak orang untuk memudahkannya bertransaksi; berbagai kartu yang menggunakan strip magnetik atau chip, seperti kartu mahasiswa yang sudah didesain sedemikian rupa atau kartu garansi product tertentu. Masih menurut Mary, perkembangan selanjutnya sungguh sangat menarik, apapun kartu kredit yang digunakan nantinya akan menjadi kartu debit dengan identifikasi pribadi. Begitu kartu ini dikeluarkan, bar code akan mengidentifikasi setiap pengguna kartu debit tadi, sama dengan barcode yang terdapat di pasport, barang bawaan, surat dan kartu perpustakaan.
Mengejutkan sekali, sentralisasi barcode yang sudah terselipi angka “666” tadi akan memudahkan seseorang untuk dilacak keberadaanya. Apalagi diramalkan bahwa suatu saat dalam tubuh setiap orang akan ditanam sebuah microprosesor yang didalamnya tertanam ratusan ribu transistor pada sebuah chip yang berukuran 3.9 x 7.52 mm. Yang sama dengan prosesor komputer yang cangggih. Kalau ini benar-benar terjadi yang ditakutkan adalah penghapusan kerahasian data pribadi seseorang oleh oknum tertentu dan pengendalian total terhadap kehidupan setiap orang.
Di indonesia sendiri isu tentang “666” sebenranya bukanlah satu isu yang asing ditelinga orang kristen. Beberapa tahun lalu bersamaan dengan isu pasar global yang telah mulai berkembang, ditambah lagi kemunculan salah satu grosir supermarket yang menggunakan kartu sebagai alat pencatat data membernya juga pernah dicurigai sebagai salah satu manifestasi dari system “666”. Cuga kemunculan salah satu penyedia produk kecantikan luar negeri yang berinisial p juga pernah disinyalir sebagai produk yang berasal dari anti kris. Slamet Wiyono
TABLOD REFORMATA YOHANES BLOG

.::Related Post::.