Baca: Markus 6:30-44
Setelah diutus berdua-dua, para rasul kini sudah kembali. Mereka lantas menceritakan apa yang mereka pelajari dari pengalaman pelayanan mandiri yang mereka lakukan. Termasuk memberitahu apa saja yang mereka ajarkan (6:30). Menarik, Tuhan Yesus dan murid-muridnya memberi teladan tentang evaluasi sebuah pelayanan. Pastilah ada banyak hal yang diceritakan, pengalaman-pengalaman yang didapat secara langsung. Bukan tidak mungkin ada koreksi di dalamnya.
Melihat murid-muridnya kelelahan, dan Dia merasa mereka memerlukan istirahat barang sejenak. Lalu Yesus mengajak para murid (para rasul) untuk pergi ke tempat sepi agar mereka dapat beristirahat, setidaknya untuk sekadar makan 6:31. Sebab di ayat sama diceritakan, bahwa karena begitu banyaknya orang yang datang dan pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. Lantas mereka bersama-sama bertolak menuju tempat yang diinginkan dengan menggunakan perahu.
Kemungkinan besar mereka menuju ke seberang danau, di tempat sepi, jauh dari kerumunan orang yang terus mengejar mereka. Seharusnya mereka lebih dulu sampai di seberang, tapi anehnya, orang-orang yang ingin mendengar pengajaran mereka justru datang lebih cepat menggunakan jalur darat. Jika dilihat dari perjalanan Yesus sebelumnya ke desa-desa, setelah diusir dari kampong-Nya di Nazareth, ada kemungkinan perjalanannya tidaklah terlalu jauh dari itu, yaitu diseputaran Galilea. Sementara daerah tempat Yesus menyingkir bersama para murid ada di Betshaida Luk 9:10. Antara Galilea ke Bethsaida kurang lebih lima kilo meter.
Memang tidak terlampau jauh. Melihat kerumunan orang banyak yang sudah sampai di situ, bisa jadi juga Dia melihat kesungguhan hati mereka (orang-orang) mencari dan ingin mendengar pengajaran, maka tergeraklah hati Yesus 6:34. Tidak sekadar simpati (tergerak hati) terhadap mereka, tapi Dia juga memberi teladan pada para murid untuk mengabaikan kepentingan diri (niat dan tujuan untuk menyendiri, beristirahat dan makan) dan lebih mengutamakan pelayanan. Mengutamakan jiwa-jiwa yang telah menguning, siap untuk dituai itu. Tuhan Yesus juga tidak berpangku tangan, tapi Dia juga terjun langsung mengajar, meskipun Dia bisa memerintah murid-murid-Nya. Toh para murid juga telah teruji melalui pengalaman mereka menginjil berdua-dua di seputaran Galilea. Dengan otoritas yang dimiliki, pasti amat sangat bisa dan dimungkinkan jika Yesus ingin santai, baring-baring, lantas meminta muridnya yang melayani orang banyak itu. Tapi Yesus tidaklah demikian.
Teladan lain juga dicontohkan Yesus kepada murid-murid-Nya, agar tidak hanya berbelaskasihan dengan hanya jiwa mereka, dalam artian kerohanian mereka. Tapi juga kebutuhan jasmani mereka pun perlu dipenuhi. Memenuhi kebutuhan Jasmani dan Rohani. Karena itulah, ketika murid-murid meminta Yesus agar memerintahkan orang-orang banyak itu untuk pulang, agar dapat membeli makanan di desa sekitar, Tuhan Yesus justru menjawab agar para muridlah yang memberi makanan. Sementara uang yang ada pada murid diperkirakan ada duaratus dinar, atau sekitar 200 kali upah harian seseorang. Bagaimana mungkin dengan uang yang dimiliki para murid dapat membeli makanan untuk 5000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan. Permintaan Yesus memang terkesan mengada-ada. Bagaimana tidak, makan saja mereka belum sentuh, yak kok disuruh membelikan maknan untuk ribuan orang itu. Di sinilah murid sebenarnya dituntut untuk lebih membuka mata mereka lebar-lebar, bahwa ditengah kemustahilan, sesungguhnya ada jalan keluar, jika mereka mengandalkan Yesus, Tuhan yang ada di dekat mereka. Yang mereka pikirkan hanyalah nominal. Pertama nominal 5000 laki-laki itu tentu saja menggetarkan mereka, atau ketidakcukupan nominal uang mereka senilai duaratus dinar itu. Itulah orang, ketika ada masalah, bukan lantas sujud, berlutut mohon dibukakan oleh Yesus, atau setidaknya diberi kekuatan untuk menghadapi masalah, tapi mencoba merasionalisasi masalah dengan mengukur kemampuan mereka menghadapi masalah. Padahal jelas-jelas tidak mungkin, bisa dan cukup.
Ternyata praktik pelayanan, kuasa yang diberikan, dan pengajaran yang telah dipraktikkan para murid tidak serta merta membawa kemajuan iman mereka. Rasionalisasi persoalan justru lebih sering mengisi otak mereka daripada bersandar sepenuhnya pada Yesus dalam iman dan percaya mereka. Mujizat memberi makan lima ribu orang laki-laki, hingga sisa 12 bakul membukakan mata para murid tentang pemeliharaan dan kuasa Yesus. Slawi
Read More...


