Kamis, 02 Februari 2012

Empati, Bukan Hanya Simpati

Baca: Markus 6:30-44

Setelah diutus berdua-dua, para rasul kini sudah kembali. Mereka lantas menceritakan apa yang mereka pelajari dari pengalaman pelayanan mandiri yang mereka lakukan. Termasuk memberitahu apa saja yang mereka ajarkan (6:30). Menarik, Tuhan Yesus dan murid-muridnya memberi teladan tentang evaluasi sebuah pelayanan. Pastilah ada banyak hal yang diceritakan, pengalaman-pengalaman yang didapat secara langsung. Bukan tidak mungkin ada koreksi di dalamnya.

Melihat murid-muridnya kelelahan, dan Dia merasa mereka memerlukan istirahat barang sejenak. Lalu Yesus mengajak para murid (para rasul) untuk pergi ke tempat sepi agar mereka dapat beristirahat, setidaknya untuk sekadar makan 6:31. Sebab di ayat sama diceritakan, bahwa karena begitu banyaknya orang yang datang dan pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. Lantas mereka bersama-sama bertolak menuju tempat yang diinginkan dengan menggunakan perahu.

Kemungkinan besar mereka menuju ke seberang danau, di tempat sepi, jauh dari kerumunan orang yang terus mengejar mereka. Seharusnya mereka lebih dulu sampai di seberang, tapi anehnya, orang-orang yang ingin mendengar pengajaran mereka justru datang lebih cepat menggunakan jalur darat. Jika dilihat dari perjalanan Yesus sebelumnya ke desa-desa, setelah diusir dari kampong-Nya di Nazareth, ada kemungkinan perjalanannya tidaklah terlalu jauh dari itu, yaitu diseputaran Galilea. Sementara daerah tempat Yesus menyingkir bersama para murid ada di Betshaida Luk 9:10. Antara Galilea ke Bethsaida kurang lebih lima kilo meter.

Memang tidak terlampau jauh. Melihat kerumunan orang banyak yang sudah sampai di situ, bisa jadi juga Dia melihat kesungguhan hati mereka (orang-orang) mencari dan ingin mendengar pengajaran, maka tergeraklah hati Yesus 6:34. Tidak sekadar simpati (tergerak hati) terhadap mereka, tapi Dia juga memberi teladan pada para murid untuk mengabaikan kepentingan diri (niat dan tujuan untuk menyendiri, beristirahat dan makan) dan lebih mengutamakan pelayanan. Mengutamakan jiwa-jiwa yang telah menguning, siap untuk dituai itu. Tuhan Yesus juga tidak berpangku tangan, tapi Dia juga terjun langsung mengajar, meskipun Dia bisa memerintah murid-murid-Nya. Toh para murid juga telah teruji melalui pengalaman mereka menginjil berdua-dua di seputaran Galilea. Dengan otoritas yang dimiliki, pasti amat sangat bisa dan dimungkinkan jika Yesus ingin santai, baring-baring, lantas meminta muridnya yang melayani orang banyak itu. Tapi Yesus tidaklah demikian.

Teladan lain juga dicontohkan Yesus kepada murid-murid-Nya, agar tidak hanya berbelaskasihan dengan hanya jiwa mereka, dalam artian kerohanian mereka. Tapi juga kebutuhan jasmani mereka pun perlu dipenuhi. Memenuhi kebutuhan Jasmani dan Rohani. Karena itulah, ketika murid-murid meminta Yesus agar memerintahkan orang-orang banyak itu untuk pulang, agar dapat membeli makanan di desa sekitar, Tuhan Yesus justru menjawab agar para muridlah yang memberi makanan. Sementara uang yang ada pada murid diperkirakan ada duaratus dinar, atau sekitar 200 kali upah harian seseorang. Bagaimana mungkin dengan uang yang dimiliki para murid dapat membeli makanan untuk 5000 orang laki-laki, belum termasuk perempuan. Permintaan Yesus memang terkesan mengada-ada. Bagaimana tidak, makan saja mereka belum sentuh, yak kok disuruh membelikan maknan untuk ribuan orang itu. Di sinilah murid sebenarnya dituntut untuk lebih membuka mata mereka lebar-lebar, bahwa ditengah kemustahilan, sesungguhnya ada jalan keluar, jika mereka mengandalkan Yesus, Tuhan yang ada di dekat mereka. Yang mereka pikirkan hanyalah nominal. Pertama nominal 5000 laki-laki itu tentu saja menggetarkan mereka, atau ketidakcukupan nominal uang mereka senilai duaratus dinar itu. Itulah orang, ketika ada masalah, bukan lantas sujud, berlutut mohon dibukakan oleh Yesus, atau setidaknya diberi kekuatan untuk menghadapi masalah, tapi mencoba merasionalisasi masalah dengan mengukur kemampuan mereka menghadapi masalah. Padahal jelas-jelas tidak mungkin, bisa dan cukup.

Ternyata praktik pelayanan, kuasa yang diberikan, dan pengajaran yang telah dipraktikkan para murid tidak serta merta membawa kemajuan iman mereka. Rasionalisasi persoalan justru lebih sering mengisi otak mereka daripada bersandar sepenuhnya pada Yesus dalam iman dan percaya mereka. Mujizat memberi makan lima ribu orang laki-laki, hingga sisa 12 bakul membukakan mata para murid tentang pemeliharaan dan kuasa Yesus. Slawi

Read More...

Rabu, 01 Februari 2012

Paradoks Sikap Herodes

Markus 6:14-29

Membaca ayat Markus 6:14-29 ini kita diajak melihat bagaimana dualism Herodes, Raja yang berkuasa di jaman Yesus dan Yohanes pembabtis. Pertama, pada ayatnya yang ke (14) Raja Herodes dikatakan telah mendengar tentang Yesus, karena nama-Nya sudah terkenal, dan orang-orang pada waktu itu mengatakan, Yesus adalah Yohanes pembabtis yang sudah bangkit, orang lain lagi mengatakan Yesus adalah Elia, sementara beberapa lainnya menyatakan bahwa Yesus adalah nabi.

Herodes sendiri menyebut Yesus adalah “Titisan” Yohanes (16), atau Yohanes yang bangkit kembali. Bagaimana Herodes bisa menyimpulkan bahwa Yesus adalah Yohanes yang bangkit kembali? Ini karena Herodes pernah mengenal Yohanes pembabtis lebih dekat. Setidaknya Yohanes sering berbincang-bincang dengannya (20), sebelum akhirnya dibunuh oleh titah raja, karena termakan sumpah.

“Dilindungi, Tapi Dibunuh”

Yohanes adalah orang yang sangat vocal, A dikatakan A dan B akan dia serukan B. karena itulah dia tidak takut, meski harus berbicara (menegur) raja sekalipun. Di ayat (17-18) dikatakan bagaimana teguran Yohanes kepada Herodes terkait Herodias, isteri Filipus saudaranya, yang diambilnya sebagai isteri telah membawanya ke pintu penjara. "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" (18). Namun karena Herodes menaruh hormat kepada Yohanes, mengingat Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi dia melindunginya dari tangan dan ancaman Herodias yang menaruh dendam dan bermaksud membunuh Yohanes, tapi belum bisa (19). Ironis, “Dilindungi, Tapi Dibunuh” itulah yang dilakukan oleh Herodes.

“Rindu Kebenaran, Tapi Menolak Kebenaran”

Tidak bisa dipungkiri, nurani seorang Herodes memang sangat haus dengan kebenaran. Ini terbukti dari respons sesaat dia terhadap kebenaran yang diajarkan oleh Yohanes. Kebenaran itu mengetuk nuraninya, sehingga membuat hatinya terombang-ambing (20). Kebenaran itu mencungkirbalikkan pola pikir dan paradigma dia sebelumnya. Meski begitu, tetap saja membuat Herodes senang mendengarnya. Ada kerinduan untuk kembali mendengar kebenaran. Tapi tidak ketika kebenaran itu mengusik, mengoreksi, membongkar hidupnya lebih dalam lagi. Kebenaran yang menarik untuk didengar itu seakan berubah menjadi hakim – dan memang seperti itu seharusnya – menilai dan membongkar tindakannya ketika itu dipandang salah. "Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!" Kalimat kebenaran itu dianggap Herodes sebagai kritikan, atau tindakan melawan Raja, yang biasa melakukan tindakan sekehendak hati, sewenang-wenang dan sekenanya. Rindu mendengar kebenaran, tapi menolak meresponi kebenaran, apalagi ketika kebenaran bersentuhan dengan urusan pribadi, urusan privacy dia, kewibawaan, kekuasaan dan wibawa diri (sebagai seorang raja).

“Ajar Balas Sasar”

Jika di atas kita melihata bagaimana respons Herodes terhadap Kebenaran, sekarang kita melhat bagaimana respons Yohanes terhadap si pembawa kebenaran. Yohanes, orang yang dihormat Herodes, orang yang dianggap Herodes benar dan suci. Orang sama yang memberitakan kebenaran kepadanya, menceritakan tentang pertobatan dan pengajaran tentang Yesus, Mesias yang dia persiapkan jalannya itu, dan hal itu membuat Herodes tertarik, tapi akhirnya justru disasar oleh Herdes. Diajar, tapi membalas dengan disasar (dijadikan sasaran). Pertama, dikorbankan, dengan dipenjara ketika ada persoalan terkait warta kebenaran yang disampaikannya (urusan Herodias). Kedua dikorbankan karena Herodes termakan sumpahnya terhadap anak Herodias. Alih-alih Herodes berterimakasih atau setidaknya mengaplikasikan kebenaran yang disampaikan, justru si pembawa kebenaran disasar oleh Herodes, dua kali dikorbankan.

“Senang Pembawa Sesal”

Meski Yohanes dilindungi Herodes dari tangan Herodias, namun Herodias tidak kurang cara. Kesempatan itu datang juga, ketika Herodes mengadakan perjamuan dalam rangka hari ulangtahunnya, anak perempuan Herodias tampil menari di depan Herodias. Hal itu membuat hati Herodias bungah. Karena itu, raja bersumpah akan memberikan apapun kepada anak Herodias. "Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!"(22). Bingung tentang apa yang diminta, gadis itu pun bertanya kepada ibunya (Herodias) – inilah yang ditunggu-tunggu oleh Herodias. Tanpa pikir panjang dia pun meminta kepala Yohanes sebagai hadiah, dan hal itu disampaikan oleh anaknya kepada Raja. Senang sebentar, berbuntut penyesalan seumur hidup.

Mendengar hal itu, hati raja menjadi sedih (26), tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Di pikiran raja, permintaan anak itu pastilah tidak lebih dari harta benda (materi), atau wilayah, kekuasaan. Hal ini terlihat dari pernyataan raja pada ayatnya yang ke (23) "Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!". Tapi sungguh diluar perkiraan Raja, yang diminta raja justru kepala orang yang dilindunginya, orang yang diseganinya, dan orang yang ajarannya disukainya. Tapi bagaimanapun sumpah, apalagi sumpah seorang raja, yang diucapkan di depan banyak orang, tamu undangan, akan sangat mempermalukan, menurunkan wibawa, gengsi dan integritasnya jika tidak dilaksanakan. Jadilah sang raja termakan sumpahnya sendiri.

Penyesalan seseorang memang akan terus menyerang, hinggap dan membayangi dia sepanjang umur hidupnya. Kecuali perasaan itu ditekan sedemikian rupa hingga tidak pernah lagi berbicara. Kisah Herodes memberi sesuatu yang berharga kepada kita agar betul-betul, sungguh-sungguh dan sepenuh membuka hati terhadap kebenaran. Sebab kebenaran akan sangat sering menyerang sisi-sisi privacy diri, membongkar, menjustifikasi, menegor dan membuat hati ini resah. Jika ini yang terjadi, jangat sedikit pun kita, hati dan diri ini melawan suara kebenaran. Sebaliknya, kita meresponi apa yang dikatakan kebenaran, kendati itu menyakitkan, bahkan dapat membuat kita malu dihadapan orang, mengancam kewibawan diri dihadapan bawahan dan banyak lagi. Tapi respons positif dengan mengaplikasikan kebenaran itu adalah hal yang wajib dilakukan. Slawi

Read More...

Selasa, 31 Januari 2012

Teladan Pelayanan Sang Inisiator

Baca: Markus 6:6b-13


Setelah Yesus diusir dari kampung-Nya, di Nazareth, kemudian Dia melakukan pelayanan ke desa-desa sambil mengajar(6b). Ini adalah teladan yang diberikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya yang ‘Nyantrik” (berguru) kepada-Nya. Jaman itu, seorang murid pasti akan mengikuti gurunya kemana pun dia pergi. Hal ini pula yang terjadi pada murid-murid Yesus. Mereka melihat secara langsung apa yang dilakukan oleh Yesus, bagaimana metode pelayanan-Nya, seperti apa Dia melayani jiwa-jiwa. Apa respons orang terhadap Yesus, dan bagaimana Yesus sendiri menanggapi respon orang yang beragam, bahkan tidak jarang penolakan diterima-Nya.

Di ayat yang ke (7), Yesus lantas memanggil murid-murdi-Nya untuk diberi pengarahan. Pengarahan seperti apa? Ya, pengarahan kepada murid-murid tentang praktek pelayanan. Setelah beberapa waktu mereka bersama-sama Yesus, melihat apa yang dikerjakan-Nya, kini saatnya untuk mereka memraktikkan apa yang dipelajari dari-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah adalah sang inisiator pelayanan. Dialah yang berinisiatif untuk melayani jiwa-jiwa, memberitakan kabar baik, kabar sukacita tentang Dia. Dialah pemrakarsa pelayanan, karena itu, jangan ada seorang pun juga memegahkan diri karena sudah diperkenan melayani. Sebab itu bukan karena inisiatif, aktif dan kreatifnya dia, tapi itu semua karena kemurahan Allah yang telah memberi kesempatan melayani. Dialah yang Mengutus kita melayani. Bukan hanya berinisiatif, lantas berpangku tangan tak melakukan apa-apa. Tuhan Yesus juga Mempersiapkan Pelayanan dengan baik para murid-Nya terlebih dahulu. Apa saja yang dipersiapkan-Nya:

1. Dia telah melatih murid-murid-Nya, setiap hari untuk secara langsung melihat apa yang dikerjakan oleh-Nya.

2.Dia juga mendidik, dalam artian memberi pengajaran kepada mereka. Dengan mendengarkan ketika Yesus mengajar, atau belajar direct, langsung dari apa yang Yesus katakan kepada mereka.

3.Dia Memberi Kuasa, disamping perlengkapan ilmu, baik pengajaran, didikan, maupun pelatihan secara langsung yang diberikan Yesus, Dia juga memberi murid-murid-Nya kuasa. Kuasa atas roh-roh jahat, kuasa untuk menyembuhkan penyakit, dan kuasa untuk melepaskan orang dari kelemahan, seperti kata Lukas dan Matius. Ini juga tak kalah penting, sebab karunia ini adalah sarana untuk pelengkap pelayanan. Sarana untuk maksimalisasi pelayanan.

Bukan hanya inisiator, dan mempersiapkan Pelayanan, Dia juga memberi arahan, nasihat, dan wejangan secara khusus. Hal ini terkait dengan system, cara atau metode pelayanan yang harus dilakukan. Hal apa saja yang menjadi arahan-Nya:

1. Mengutus mereka berdua-dua. Format dua-dua ini sangat penting dan bermanfaat dalam pelayanan. Keduanya bisa saling menopang dalam melayani Tuhan. Ketika ada bermacam-macam hal yang dapat mengendurkan semangat melayani, rekan sepelayanan dapat mengingatkan. Ketika ada tantangan dalam pelayanan, maka beban itu dapat ditanggung bersama, yang tentunya akan menjadi lebih ringan bukan? Ya.. berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, itu kata pepatah.

2. Perihal Bekal, atau apa saja yang boleh dibawa oleh para murid-Nya. Di sini Yesus melarang mereka membawa barang apapun, khususnya perbekalan makan, atau uang. Yang boleh dibawa ayat ke (9) disebutkan hanyalah boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Hal ini dilakukan Yesus agar mereka focus pada pelayanan, dan bukan pada penghidupan, atau materi. Selain itu, hal ini juga bermanfaat sebagai semacam filtrasi orang yang dilayani. Dalam arti siapa yang menolak dan siapa yang tidak. Yang menolak pastilah akan menerima mereka. Jika sudah diterima, maka urusan materi, dan penghidupan, itu bukan hal yang terlalu bermasalah.

3. Jika diterima. Penerimaan orang terhadap kita tentu hal yang sangat membahagiakan. Tapi dalam wejangan-Nya, Yesus memberi arahan agar mereka tidak terlalu euphoria (berlama-lama bangga dan senang) dengan penerimaan itu, sebab ada hal lebih penting yang dilakukan. Yakni, tinggal di rumah orang yang menerima, sampai tiba waktunya nanti mereka pergi. Ketika para murid diterima dan tinggfal di tempat/ rumah orang yang menerima, mereka tidak hanya diam, berpangku tangan layaknya seorang tuan besar yang harus dilayani. Tapi mereka harus melayani, seperti apa? Yakni menjalankan tujuan Yesus mengutus mereka berdua-dua, yakni untuk memberitakan Injil, mewartakan kabar sukacita. Tidak itu saja, ketika ada orang yang sakit dan kerasukan setan, dengan kuasa yang diberikan Allah maka para murid pun harus melayani.

4. Mengatasi Penolakan. Tidak mustahil ketika melayani mereka akan ditolak. Jangankan para murid, Yesus pun mendapat penolakan ketika di Nazareth, dan gerasa, seperti disebutkan dalam pasal-pasal sebelumnya. Yang terpenting bukan penolakannya, tapi bagaimana berespons terhadap penolakan. Dalam urusan ini Yesus sendiri telah memberi teladan terhadap para murid-muridNya. Penolakan tidak sertamerta mengendurkan orang melayani, tapi menjadikan itu sebagai penyemangat dalam melayani.

Tentang penolakan, Yesus memberikan mereka arahan tentang bagaimana bersikap. Dalam ayat yang ke (11) disebutkan, kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka. Mengibaskan debu adalah tradisi orang yahudi ketika mereka sudah melintasi daerah non Yahudi, dan masuk daerah Yahudi. Tanda ini menunjukkan, dimaksudkan Yesus untuk menunjukkan bahwa, ketika orang-orang menolak murid-Nya, maka sama saja mereka telah menolak Dia sang empunya pelayanan yang telah mengutus orang untuk melayani. Dan akibatnya pun akan sangat fatal. Dalam kitab matius disebutkan, bahwa apa yang ditanggung oleh Sodom-gomora akan jauh lebih ringan disbanding dengan apa yang akan ditanggung kota itu, akrena penolakan mereka.

Tentang hasil dari pelayanan para murid ini disebutkan dalam (13) bahwa mereka telah mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. Terkait dengan minya yang dioleskan, ini bukanlah minyak urapan seperti anggapan sebagian orang Kristen masa kini. Minyak yang dioleskan adalah minyak zaitun yang bermanfaat menyembuhkan penyakit tertentu. Artinya, tanpa mengesampingkan kuasa Allah, minyak itu adalah sarana medis yang juga digunakan oleh murid-murid untuk menyembuhkan orang sakit. Bukan melulu soal mujizat.

Berbahagialah kita, umat-Nya, yang kini diberi kesempatan melayani, dalam hal apapun. Sebab, itu adalah kesempatan yang sangat berharga bagi kita untuk dipertanggungjawabkan. Jangan takut, Dia sang empunya pelayanan itu akan selalu menyertai kita, memberi kita kuasa sebagai pelengkap melayani. Tentang hal penolakan,. Itu adalah hal berat memang, tapi itu biasa terjadi di mana-mana. Jangankan kita, Yesus yang mengutus kita melayani pun beberapa kali di tolak. Karena itu kiranya penolakan, tidak diharagai orang tidak membuat kita undur, tapi tetap maju dalam pelayanan Tuhan. Kiranya Tuha Yesus memberi kekuatan untuk melampaui banyak masalah.

Read More...

Senin, 30 Januari 2012

Diremehkan? Ah.. Itu Biasa!

Baca: Markus 6:1-6a


Bisa mewartakan Firman Tuhan kepada banyak orang adalah anugrah sekaligus kebahagiaan yang luar biasa. Karena kesempatan itu bukanlah sesuatu yang diusahakan -- sebab orang kristen percaya bahwa, itu adalah anugrah Allah yang luar biasa. Tapi bagaimana respons kita jika suatu ketika kita mewartakan Firman Tuhan, lantas orang menolak, bahkan mengusir kita?

Bukan soal yang mudah bukan. Hal ini dialami juga oleh Tuhan Yesus ketika melayani di tanah kelahiran-Nya, yakni nazareth. Alkitab menceritakan setelah Yesus berkunjung ke beberapa tempat untuk memberitakan kabar baik, banyak orang takjub dengan karya-Nya, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang percaya, tapi tidak dikampung halamannya sendiri. Setelah safari PI-Nya, Yesus pulang ke tanah kelahiran-Nya – pada hari sabat Dia mewartakan Firman Tuhan. Lukas menulis, ayat/ firman yang dibacakan (PL) Yesus adalah, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku , untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4: 18-19)
Setelah membaca, Tuhan Yesus lantas memberi pengajaran tentang ayat itu, dan diakhir khotbah-Nya, Dia mengatakan, "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." (Lukas 4:21). Sementara Markus menulis, setelah mendengar Yesus memberi pengajaran, orang-orang yang mendengar, notabene adalah orang yang mengenal Yesus sejak lahir takjub (terheran-heran) dengan apa yang beritakan. Lantas mereka mempertanyakan tentang beberapa hal:
Latar Belakang Pendidikan: Ayat ke 2 secara tersirat menunjukkan hal ini "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya?” pertanyaan ini menunjukkan keraguan tentang hikmat yang dibawakan, termasuk sumber dan aal hikmat yang disampaikan. Apalagi seperti Lukas ceritakan, apa yang dikatakan telah digenapi, mengarah kepada sosok utusan Tuhan yang agung, tokoh pembebasan.
Kemampuan dan Kuasa Yesus: di ayat yang sama disebutkan ”Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?” ini mempertanyakan kemampuan Yesus, mempertanyakan kuasa Yesus yang mampu melakukan hal-hal yang besar seperti dikapernaum. Sebab Yesus mengerti maksud hati orang-orang itu. Dalam Lukas 4:23 Dia mengatakan “Maka berkatalah Ia kepada mereka: "Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku: Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, u segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum.” Dari ayat ini jelas, bahwa mereka meragukan kemampuan Yesus. Mereka menginginkan apa yang didengar, seperti di kapernaum itu terjadi ditanah kelahiran mereka. Jangan hanya kabar burung, tapi terbukti. Jelas sudah, orientasi mereka adalah tentang mujizat yang spektakular – barulah mereka akan percaya.
Apa saja yang dikerjakan-Nya di kapernaum:
1. Dalam Markus 1:22 disebutkan orang-orang yang mendengar pengajaran Yesus sangat takjub, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.
2. Markus 1:24 -26 Yesus menghardik Roh jahat.
3. Markus . 2:3-5 Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh,
4. Markus 2:5Yesus mengatakan "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.
Bagaimana orang-orang di Nazareth sampai tahu bahwa Yesus membuat mujizat di kapernaum? Dalam Markus 1:27 disebutkan bahwa orang-orang di sana takjub sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya 2 ." lalu di Markus 1:28 dikatakan: Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.
Dari Lukas 4:23, tafsiran saya, Yesus tidak melakukan mujizat secuil pun untuk membuktikan siapa Dia. Jika coba dikontraskan dengan di kapernaum, maka, di Nazareth ada indikasi bahwa Yesus dilihat oleh mereka:
1. Tidak dilihat memberitakan Firman dengan penuh kuasa. Memang mereka takjub, tapi ketakjubannya itu tidak lebih dari semacam ketakjuban social. Dalam artian, anak seorang tukan kayu, yang jika dilihat dalam starat ekonomi dan social tidak dalam strata tinggi, bisa mengajar firman tuhan, itu sesuatu yang patut dibanggakan. Ketakjubannya tidak lebih dari itu.
2. Tidak mendemonstrasikan kuasa-Nya, seperti menghardik Roh jahat, atau menyembuhkan orang lumpuh.
Orang Nazareth Mempertanyakan Latarbelakang Sosial Yesus:
Sebagai seorang yang dikenal sejak kecil. Belum lagi latarbelakang keluarga, dan ekonomi. Ditambah latarbelakang pendidikan yang tidak jelas, tidak seperti ahli taurat yang memang belajar khusus Firman Tuhan (PL), bukan soal gampang memberitakan sesuatu yang baru. Ayat 6:3, menunjukkan bagaiman mereka mengenal betul asal-usul Yesus. Ayat itu juga menjelaskan bahwa Yesus tidaklebih daripada mereka, Adik-Nya pun berada diantara orang-orang itu untuk duduk mendengar, bukan mengajar. Markus mencatat hal itu yang kemudian membuat mereka kecewa dan menolak Dia.

Sementara itu Lukas mencatat, bahwa penolakan kepada Yesus diakibatkan oleh ilustrasi Yesus yang membuka kedok da nisi hati orang-orang Nazareth yang busuk. Dalam Lukas 4:25 disebutkan bagaimana Yesus mengajak orang-orang Nazareth untuk kembali melihat kisah Janda sarfat yang dipilih Tuhan untuk ditolong oleh Elia, padahal, Pada zaman Elia ada banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan, dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia justru diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon. Kisah lain yang Yesus kutip, pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorangpun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu. Mendengar itu orang-orang Nazareth langsung marah dan mengusir Dia. Ini menunjukkan kepada orang-orang di situ (Nazareth) bahwa Allah juga mengasihi jiwa-jiwa lain di luar Israel. Meskipun Israel bangsa pilihan, bukan berarti Allah tidak memlihar dan memilih orang diluar Israel. Menceritakan hal itu, tentu saja Yesus dianggap telah menyakiti martabat orang-orang Israel sebagai bangsa pilihan.

Firman Tuhan pagi ini bukan berarti memberi arahan kepada kita agar jangan memberitakan Injil, atau kabar berita baik itu ke orang-orang di daerah kita sendiri. Tapi memberi gambaran kepada kita, bahwa tidak mudah memberitakan Injil (firman Tuhan) kepada orang-orang di daerah kita sendiri. Sebab amat sangat umum jika mereka akan meragukan kredibilitas dan integritas kita sebagai orang yang diberi anugerah dan kesempatan oleh Tuhan untuk mewartakan firman. Tidak hanya itu, orang juga kerap melihat latar belakang pendidikan yang kita miliki. Belum lagi jika ada masalalu yang buruk. Diremehkan orang itu adalah sesuatu yang mungkin terjadi.

Yesus memang ditolak dan diragukan, tapi tidak menghambat dia untuk tetap mewartakan Firman Allah kepada orang-orang yang memang sudah sangat mengenal Dia, dan latar belakang keluarga-Nya. Hambat an memang sesuatu yang sangat sulit dihindari, bahkan kerap membuat kita down, tapi biarlah itu tidak membuat kita lari dari panggilan untuk tetap melayani. Hambatan dan rintangan pasti selalu ada – jangan jadikan itu sebagai ukuran – tapi bagaimana panggilan kita, sejauh mana karunia dan karya yang kita lakukan berdampak bagi umat. Itu sudah! Slawi




Read More...